Skip to main content

Integritas


Beberapa pekan ini di daerahku lagi ada berita yang hits banget tapi sayang konteksnya ga bagus. Yang tentang kepala sekolah itu loh, hehe. Bahkan sampe masuk lambe turah. Agak gimana gitu ya.

Saat ngobrolin kasus itu, keluargaku ada yang nyeletuk gini,  
"Ya, si X ini mungkin juga terlibat. Pasti dia disuruh sama atasan. " 
Terus aku jadi kepikiran dan akhirnya nanya ke papa, 
"Pa, kalau nanti kita di posisi yang tak mau berbuat curang tapi kita dipaksa sama atasan, cemane (re: gimana) tu?"

"Nak, di dunia ni tak ade yang bise memakse kite nak bebuat apepun walaupun kite dalam sistem. Kalau kite tak mau, ye tak bise. Paling tak dapat jabatan. Kadang kite tu ade ambisi, nak jabatan ini, jabatan itu, padahal tak ade jabatan pun cukup juge. Segan same ini, takut itu, padahal kalau kita tak mau pasti ade je jalan e tu."

Aku translate ya: 
"Nak, di dunia ini ga ada yang bisa maksa kita untuk melakukan sesuatu apapun walaupun kita berada dalam sistem (yang salah). Kalau kita ga mau, ya sudah ga bisa. Paling-paling ga dapat jabatan (promosi). Kadang kita kalah sama ambisi, mau jabatan ini itu. Padahal tanpa jabatan itupun, Allah pasti cukupkan rezeki kita. Kadang segan dan takut menjadi alasan. Dan kalau kita benar-benar ga mau mengambil jalan yg salah, pasti ada aja cara untuk menghindarinya."

Jadi gais, kalo ada yang bilang, "Jaman sekarang ga mungkin kita bisa jadi orang bener, idealis. Udah lah. Gk akan berkembang kamu." Aku pernah dibilangin gitu sama orang soalnya, hehe
(Re: Idealis tidak sama dengan kaku ya.)

Hei, sistem yang salah itu bukan muncul baru-baru ini saja. Sejak zaman nabi pun korupsi, sistem yang dzalim, oknum yang ga amanah itu udah banyak. Tapi orang yang berintegritas toh tetap ada. Yang benar-benar memegang amanah tetap ada. Jadi, kalau kamu memutuskan untuk mengambil langkah yg salah itu bukan karena sistemnya, kamunya aja yang lemah. Lemah buat melawan ambisi dan hawa nafsu kamu sendiri.

Tulisan ini aku tujukan untuk diriku sendiri di masa depan yang entah masih se-idealis sekarang entah tidak. 

"The truth can be found, event in the darkest of time, if one only remembers to turn on the light" 
- Quote is edited by me, inspired by Albus Dumbledore - 

Wallahu a'lam

#GoresanTintaAmelia


Comments

Popular posts from this blog

Dang Gedunai

    Long time ago in Riau, lived a kid named Dang Gedunai. He lived with his mother. Dang Gedunai was      a stubborn kid. His mother was sad. Dang Gedunai was her only child but he never made her happy. One day, Dang Gedunai went to the river to catch some fish. “Mother, I want to go to the river. I want to go fishing,” said Dang Gedunai to his mother. “It’s cloudy outside. Rain will soon fall. Why don’t you just stay at home?” said his mother. As always Dang Gedunai ignored her. He then went to the river.      It was very cloudy when he arrived at the river. Soon it was drizzling, but Dang Gedunai was still busy fishing. Later rain fell down heavily. Dang Gedunai finally gave up. However right before he left, he saw something shining in the river. It was a very big egg. Dang Gedunai then brought the egg home. His mother was surprised to see him brought a big egg. “What egg is that? Where did you find it?” she asked. “I found it...
PENGARUH LIMBAH PABRIK TERHADAP KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA KARYA TULIS DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MENGIKUTI LOMBA KARYA TULIS JAMBORE NASIONAL   DISUSUN O L E H R. AMELIA SARI SMP NEGERI 1 RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG             Sebagimana kita ketahui, bahwa kita semua sangat membutuhkan air. Seperti untuk minum, cuci, mandi dan masih banyak lagi keperluan lainnya. Agar dapat hidup sehat, dibutuhkan pula air yang sehat dan berkualitas. Akan tetapi saat ini untuk mendapatkan air yang sehat dan berkualitas sangat sulit, karena pencemaran terjadi dimana-mana, mulai dari perkotaan sampai kepada pedesaan. Akhir-akhir ini pencemaran air sudah terjadi pula di daerah-daerah   perkebunan, seperti pada perkebunan sawit. Pendirian pabrik-pabrik ini bertujuan untuk memudahkan petani untuk menjual hasil perkebunan sawitnya, disampi...

Hidup bagiku

   Teman, tahukah kalian apa hidup itu sebenarnya? Hmm, entahlah. Pelik mungkin jawabannya dan mungkin akan banyak jawabnya.    Kadang aku bertanya sendiri "mengapa ada orang yang merelakan hidupnya untuk hal-hal yang tak perlu?" Entah berapa banyak pelajar yang putus sekolah hanya karena hamil diluar nikah. Tak terhitung banyaknya remaja yang mati bunuh diri karena cinta. Atau artis yang redup karirnya karena si narkoba. Bahkan kini ditambah dengan orang-orang yang sepertinya asyik sekali  meliuk-liukan tubuhnya, berjoget yang entah berapa banyak kini jenisnya, mulai dari: Gangnam style, YKS, bang jali, dan entah apalah itu namanya. Untuk apa?    Atau juga sering aku berfikir "untuk apa kita berbuat baik?". Membagi-bagikan harta kepada orang lain, shalat siang-malam, belajar, mengejar cita-cita, membuat tugas, menegur yang salah, menjadi orang yang (kalau bisa) 'sempurna'. Apa hal itu tidak membuang waktu juga? Kenapa tidak bersenang-senang sa...