Skip to main content

Cara Allah Menegurku

        Pagi ini, Allah kembali menunjukkan cinta-Nya dengan mengirimkan dua anak kecil yang luar biasa di salah satu hariku. 
         Kisah ini berawal dari tugas yang diberikan oleh pihak kampus mengenai “Komunikasi Anak”. Awalnya aku (dan mungkin hampir seluruh teman-temanku) merasa bahwa tugas yang diberikan pada blok kali ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kami kehilangan akhir pekan (A.K.A lembur). Namun Allah sungguh baik, sehingga Ia memberiku hadiah yang luar biasa lewat tugas ini. 

         Salah satu tugas ku kali ini adalah melakukan wawancara dengan anak-anak. Pikiranku langsung tertuju pada adik-adik yang ada di TPA. 

       Sore itu, aku baru sampai di Masjid dan di meja paling depan sudah ada dua anak yang menunggu giliran mengaji. Sepertinya aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Naila dan Padma. “Naila, besok ada di rumah ga?” pertanyaan itu mengalir begitu saja. Entah kenapa aku ingin mewawancrai mereka. Padahal di perjalanan aku sempat memikirkan beberapa nama yang ingin aku wawancarai, dan tentunya tidak ada nama mereka. “Iya, Mba. Aku di rumah kok. Kenapa?” jawab Padma dengan senyum yang khas, plus gigi kelincinya. 

       Singkat cerita, jadilah pagi ini aku dan teman satu kelompokku, Muthi, datang ke rumah Naila dan Padma. 

“Assalamu’alaykum” 

“Wa’alaykumsalam” suara mereka tedengar dekat dari pintu rumah. Sepertinya mereka sudah menunggu. 

       Selanjutnya wawancara pun berjalan lancar dengan tema “Pengalaman Sakit” untuk Padma yang masih berusia lima tahun dan “kegiaatan keagamaan” untuk Naila yang berusia delapan tahun. 
Akhirnya, data yang ingin kami peroleh sudah lengkap, 

Mba mau pamit dulu ya, Naila, Padma.”

“Yah, kenapa, Mba?”

Demi melihat wajah Padma yang penuh harap, kami pun menunda kepulangan. 

Biasanya, kalo libur gini Naila sama Padma ngapain?”

“Mm, biasanya aku nonton, main, atau setoran hafalan.”

“Emang hafalan nya udah sampai mana?”

“Udah sampai Al-‘Adiyat”, jawab Padma yang selalu mendahului kakaknya saat kami bertanya perihal apapun.

Kalo Naila udah sampai mana?”

“Aku udah Al-Ghasyiyah”

“Kalo setoran hafalan biasanya ke siapa?”

“Ke Mba Aisyah, Ibuk, Bapak, atau kadang ke Mba Naila”

Padma cita-citanya apa?”

“Jadi penghafal Al-Qur’an!  sama.. dokter”

“Kalo Naila?”

“Penghafal Al-Qur’an sama.. penulis”
      
       Jawaban mereka seolah menamparku. Seolah semua yang ada di sekelilingku berhenti untuk sepersekian detik. Lihatlah bahwa “Penghafal Al-Qur’an” adalah hal pertama yang terlintas di pikiran mereka, barulah disusul dengan keinginan dunia. Sahabatku, apakah cita-citamu? 

Emang kenapa mau jadi penghafal Al-Qur’an?”

“Biar masuk surga” jawab Padma dengan senyum khasnya.

Emang siapa aja yang bakal masuk surga?”

“Aku, Ibuk, Bapak, Kakak, Adek” jawab Naila sambil menghitung anggota keluarganya.
       Sahabatku, sekali lagi lihatlah. Orientasi mereka adalah surga. Betapa malu nya jika orientasi kita hanya harta, jabatan, pujian. Betapa rendahnya hati yang terpaut pada dunia. Semoga Allah selalu menetapkan hati kita di jalan-Nya. 

Nanti kalau udah di surga, cari Mba Muthi sama Mba Amel ya”

Comments

Popular posts from this blog

Dang Gedunai

    Long time ago in Riau, lived a kid named Dang Gedunai. He lived with his mother. Dang Gedunai was      a stubborn kid. His mother was sad. Dang Gedunai was her only child but he never made her happy. One day, Dang Gedunai went to the river to catch some fish. “Mother, I want to go to the river. I want to go fishing,” said Dang Gedunai to his mother. “It’s cloudy outside. Rain will soon fall. Why don’t you just stay at home?” said his mother. As always Dang Gedunai ignored her. He then went to the river.      It was very cloudy when he arrived at the river. Soon it was drizzling, but Dang Gedunai was still busy fishing. Later rain fell down heavily. Dang Gedunai finally gave up. However right before he left, he saw something shining in the river. It was a very big egg. Dang Gedunai then brought the egg home. His mother was surprised to see him brought a big egg. “What egg is that? Where did you find it?” she asked. “I found it...
PENGARUH LIMBAH PABRIK TERHADAP KUALITAS AIR DAN PENGELOLAANNYA KARYA TULIS DISUSUN SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MENGIKUTI LOMBA KARYA TULIS JAMBORE NASIONAL   DISUSUN O L E H R. AMELIA SARI SMP NEGERI 1 RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG             Sebagimana kita ketahui, bahwa kita semua sangat membutuhkan air. Seperti untuk minum, cuci, mandi dan masih banyak lagi keperluan lainnya. Agar dapat hidup sehat, dibutuhkan pula air yang sehat dan berkualitas. Akan tetapi saat ini untuk mendapatkan air yang sehat dan berkualitas sangat sulit, karena pencemaran terjadi dimana-mana, mulai dari perkotaan sampai kepada pedesaan. Akhir-akhir ini pencemaran air sudah terjadi pula di daerah-daerah   perkebunan, seperti pada perkebunan sawit. Pendirian pabrik-pabrik ini bertujuan untuk memudahkan petani untuk menjual hasil perkebunan sawitnya, disampi...

Hidup bagiku

   Teman, tahukah kalian apa hidup itu sebenarnya? Hmm, entahlah. Pelik mungkin jawabannya dan mungkin akan banyak jawabnya.    Kadang aku bertanya sendiri "mengapa ada orang yang merelakan hidupnya untuk hal-hal yang tak perlu?" Entah berapa banyak pelajar yang putus sekolah hanya karena hamil diluar nikah. Tak terhitung banyaknya remaja yang mati bunuh diri karena cinta. Atau artis yang redup karirnya karena si narkoba. Bahkan kini ditambah dengan orang-orang yang sepertinya asyik sekali  meliuk-liukan tubuhnya, berjoget yang entah berapa banyak kini jenisnya, mulai dari: Gangnam style, YKS, bang jali, dan entah apalah itu namanya. Untuk apa?    Atau juga sering aku berfikir "untuk apa kita berbuat baik?". Membagi-bagikan harta kepada orang lain, shalat siang-malam, belajar, mengejar cita-cita, membuat tugas, menegur yang salah, menjadi orang yang (kalau bisa) 'sempurna'. Apa hal itu tidak membuang waktu juga? Kenapa tidak bersenang-senang sa...